my iklan

Powered By Blogger
Tampilkan postingan dengan label PANDUAN PKM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PANDUAN PKM. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Juni 2009

TEKNOLOGI PERTANIAN

EKNOLOGI ENKAPSULASI FLAVOR REMPAH-REMPAH

Ir. Sutrisno Koswara, MSi
www.ebookpangan.com

Rempah-rempah telah luas dikenal gunanya sebagai pemberi cita rasa atau
bumbu, disamping banyak digunakan untuk jamu tradisional. Sifat tersebut disebabkan
kandunga zat aktif aromatis di dalamnya. Jika zat atau komponen aktif tersebut
dipisahkan dengan cara diekstrak, baik dengan pelarut tertentu (misalnya etanol) mupun
penyulingan (destilasi) hasilnya masing-masing dikenal dengan nama oleoresin atau
minyak atsiri.
Oleoresin dan minyak atsiri rempah-rempah banyak digunakan dalam insustri
makanan, minuman, farmasi, flavor, parfum, pewarna dan lain-lain. Misalnya dalam
industri pangan banyak digunakan untuk pemberi cita rasa dalam produk-produk olahan
daging (misalnya sosis dan ham), ikan dan hasil laut lainnya, roti, kue, puding, sirup,
saus, dan lain-lain.
Dalam penggunaan oleoresin dan minyak astsiri masih dijumpai adanya
kekurangan atau kerugian. Hal ini mendorong para ahli untuk mengolah lebih lanjut
kedua produk tersebut, diantaranya dengan teknologi enkapsulasi.

Kendala Rampah Segar, Oleoresin dan Minyak Atsiri
Di Indonesia sebagian besar rempah-rempah digunakan dan diperdagangkan
dalam (termasuk diekspor) dalam bentuk segar. Dengan cara ini memang diperoleh
keuntungan antara lain : mudah untuk ditangani dan ditimbang (diukur beratnya) serta
tidak memerlukan pelabelan yang khusus. Juga bila digunakan dalam pangan olahan akan
lebih sedilit kehilangan flavor atau cita rasa dalam pengolahan dengan suhu tinggi.
Tetapi jika dilihat lebih jauh kekurangan atau kerugian yang diperoleh dalam
rempah-rempah dalam bentuk segar jauh lebih banyak, antara lain : memerlukan banyak
tempat dalam penyimpanannya karena sifatnya yang kamba (bulky); mutu dan kekuatan
flavor atau cita rasanya gervariasi tergantung pada umur, asal rempah-rempah dan
kondisi penyimpanan; adanya komponen tannin yang tergantung di dalamnya dapat

1.mempengaruhi warna dari produk olahan yang menggunakan rempah-rempah; adanya
enzim lipase dalam rempah dapat mempengaruhi rasa produk pangan yang diolah dan
disimpan lama, dan selama penyimpanan dapat kehilangan minyak volatil atau
komponen-komponennya.
Kekurangan lain adalah mudah terkena cemaran (kontaminasi) baik dari asal
tumbuhnya, dalam transpor dan penyimpanan; gudang, pilot plant atau kantor dapat
tercemari oleh debu rempah-rempah selama operasi penggilingan; beberepa jenis
rempah-rempah mengandung bakteri dengan jumlah yang sangat tinggi; tempah-rempah
yang dihancurkan dapat menghilangkan pecahan-pecahan yang tidak diinginkan pada
produk akhir; distribusi plavor yang dihasilkan dalam produk akhir kurang merata; dan
meskipun dalam rempah-rempah yang sudah disterilisasi kemungkinan masih
mengandung bangkai serangga, larva atau telur.
Adanya kekurangan dan masalah dalam penanganan dan perdagangan rempah-
rempah segar (termasuk rempah kering) tersebut di atas dapat menghambat peranan
Indonesia dalam perdagangan rempah-rempah internasional.
Sebenarnya jika komponen atau zat aktif dalam rempah-rempah dipisahkan,
sisanya merupakan produk yang kurang atau tidak berguna sebagai pemberi cita rasa,
karena sebagian besar terdiri atas serat (selulosa) dan pati. Pada saat ini di Indonesia ini
sudah banyak industri yang mengekstrak komponen aktif rempah-rempah tersebut, dan
diperdagangkan dalam bentuk oleoresin dan minyak atsiri rempeh-rempah.
Oleoresin adalah campuran komplek yang diperoleh dengan ekstraksi, konsentrasi
(pemekatan) dan stansarisasi minyak esensial (minyak atsiri) dan komponen non volatil
(tidak menguap) dari rempah-rempah, biasanya dalam bentuk cairan kental atau pasta.
Sedangkan minyak atsiri atau minyak esensial adalah fraksi volatil yang diperoleh dari
proses destilasi rempah-rempah dan bagian tanaman lain.
Dalam bentuk oleoresin disamping diperoleh keuntungan juga ada
kekurangannya. Keuntungannya antara lain seragam, terstandarisasi, flavornya lengakap
atau sama dengan rempah-rempah asalnya; bersih, bebas dari mikroba, seragam dan
cemaran lain; bebas enzim dan masih mengandung antioksidan alami; kadar airnya
sangat rendah, hampir tidak ada; mempunyai masa simpan yang lama dalam kondisi

2.penyimpanan yang normal atau agak keras; kehilangan minyak esensial dapat dikurangi
karena adanya resin; dan memerlukan gudang penyimpanan yang jauh lebih mecil
dibandingkan dengan menyiman rempah-rempah segar.
Sedangakan kekurangan atau kerugian antara lain sangat pekat dan kadang-
kadang lengket sehingga sulit ditimbang dengan tepat; karena sifatnya yang pekat dan
lengket, sejumlah oleoresin masih menempel pada wadahnya ketika dituang; flavor
dipengaruhi oleh asal dan kualitas bahan mentah yang mungkin asalnya tidak sama;
sejumlah tannin masih terdapat didalamnya, kecuali jika dilakukan proses penghilangan
tannin tersebut; dan kemungkinan masih terkandung residu atau sisa pelarut dalam
jumlah yang melebihi batas yang ditentukan jika tidak dilakukan kontrol yang baik dalam
proses ekstraksinya.
Dalam bentuk minyak atsiri keuntungan yang diperoleh antara lain : seragam,
mutu dan kekuatan flavor dapat distandarisasi, produk lebih konsisten; bebas dari enzim-
enzim, tannin, bakteri dan serangga; tidak menambah kandungan air pada produk akhir;
tidak mempengaruhi warna produk akhir; dan mempunyai stabilitas yang baik dalam
kondisi penyimpanan yang normal.
Sedangkan kekurangan atau kerugian bentuk minyak atsiri antara lain adanya
kehilangan komponen volatil dalam proses pengolahan dengan suhu tinggi; aroma atau
flavor tidak persis sama dengan rempah-rempah asalnya; beberapa jenis minyak atsiri
mudah teroksidasi; antioksida alami yang terdapat dalam rempah-rempah telah hilang
selama proses isolasi minyak atsiri; tidak mudah terdispersi dalam bahan-bahan kering;
dan bentuknya sangat pekat sehingga sulit untuk ditangani dan ditimbang secara tepat.

Teknologi Enkapsulasi
Masih adanya kekurangan produk rempah-rempah dalam bentuk minyak atsiri
maupun oleoresin mendorong para ahli mengolah lebih lanjut kedua produk tersebut.
Pengembangan lebih lanjut dari oleoresin atau minyak atsiri diantaranya adalah dengan
teknik enkapsulasi. Dalam teknik ini flavor (misalnya minyak atsiri atau oleoresin)
diperangkap dalam suatu pelapis polimer, membentuk mikrokapsul bulat dengan ukuran

3.antara puluhan mikron sampai beberapa milimeter. Isi atau flavor dalam mikrokapsul
tersebut dapat dilepaskan dengan kecepatan terkontrol pada kondisi tertentu.
Teknik-teknik mikroenkapsulasi yang banyak digunakan secara komersial adalah
“spray drying”, “air suspension coating”, akstruksi, “sparay cooling and spray chilling”,
“centrifugal axstrusion”, “rotational suspension separation” dan “ inclusion complexing”.
“spray drying” atau pengering semprot merupakan teknik enkapsulasi yang banyak
digunakan untuk minyak atsiri dan oleoresin rempah-rempah.
Oleoresin atau minyak atsiri yang dienkapsulasi sangat efektif digunakan dalam
makanan olahan, proses pengisian, pencampuran kering, permen, makanan formula,
bumbu-bumbuan, makanan penutup (dessert), produk-produk susu dan lain-lain.
Keuntungan lainnya adalah flavor terlindung dari kehilangan (penguapan) dalam masa
penyimpanan yang lama; mudah dituangkan, mudah ditimbang, ditangani dan
dicampurkan; bebas dari enzim tannin, mikroba dan serangga; mudah digunakan dalam
pencampuran bahan-bahan kering; bebas dari garam-garam, dekstrosa dan pengisi yang
lain, kecuali pati atau gum yang digunakan sebagai bahan pelapis; bersifat non
higroskopis dengan stabilitas dalam penyimpanan yang baik; serta dapat menghasilkan
produk dengan kualitas flavor yang terstandarisasi.
Dalam proses enkapsulasi dengan pengering semprot, flavor atau cita rasa bahan
pangan, misalnya yang berbentuk oleoresin atau minyak atsiri rempah-rempah, dicampur
merata (sehingga membentuk emulsi) dengan pati (lebih baik dengan pati termodifikasi,
yaitu pati yang telah diubah sifat fungsionalnya) atau gum yang dapat larut seperti gum
akasia. Selanjutnya dikeringkan dengan pengering semprot (spray dryer) dengan kondisi
suhu dan kelembaban yang diatur. Pati atau gum yang digunakan harus bersifat “food
grade” jika produk enkapsulasi tersebut akan digunakan untuk makanan, juga harus larut
dalam air agar dapat membuat isi mikrokapsul terlepas secara seragam pada saat
digunakan. Bahan pengisi atau bahan enkapsulasi yang dapat digunakan dalam proses
enkapsulasi oleoresin dan minyak atsiri dengan teknik pengeringan semprot antara lain
dekstrin, CMC, gelatin, peti termodifikasi, gum arab, gum xantan, dan gum akasia.
Keuntungan dari enkapsulasi dengan pengeringan semprot adalah kemampuannya
untuk mengeringkan banyak senyawa yang labil terhadap panas. Meskipun demikian,

4.karena banyak bahan aktif seperti flavor mengandung 20 – 30 macam komponen yang
berbeda (kelompok alkohol, aldehida, ester-ester dan keton) yang mempunyai titik didih
berkisar antara 30 dan 180o
C, akan memungkinkan kehilangan beberapa komponen
aromatik bertitik didih rendah selama proses pengeringan.
Disanping itu produk hasil sparay dryer biasanya mempunyai ukuran partikel
yang sangat kecil (umumnya kurang dari 100 mikron) sehingga mempunyai kelarutan
yang tinggi, tetapi dapat menimbulkan masalah jika dibuat untuk suatu campuran kering
(karena mudah memisah). Masalah terjadinya pemisahan tersebut dapat diatasi dan
fluiditasnya dapat ditingkatkan dengan cara agglomerasi, yaitu partikel-pertikel
enkapsulasi tersebut diberi perlakuan uap untuk membuat mereka melekat satu sama lain
sehingga menghasilkan partikel-pertikel yang lebih besar.
Jika produk yang akan dienkapsulasi bersifat sangat volatil atau termolabil, dapat
digunakan modifikasi proses spray drying yang disebut “cold dehydration process”.
Dalam proses ini, emulsi bahan aktif (misalnya oleoresin atau minyak atsiri) dalam bahan
pelapis disemprotkan ke dalam suatu cairan yang sudah menguap seperti etanol atau
polyglycol pada suhu ruang atau lebih dingin. Mikrokapsul yang diperoleh disaring dan
dikeringkan dengan pengeringan beku (freeze drying). Zilberboim etal. (1986) telah
menggunakan proses ini untuk mengenkapsulasi oleoresin paprika dan beberapa ester
dengan gum arab.
Enkapsulasi Flavor Bawang Putih dan Jeruk Purut
Sebagai ilustrasi, dibawah ini dijelaskan proses enkapsulasi flavor atau cita rasa
bawang putih dan jeruk purut menggunakan pengering semprot, yang dibuat di Jurusan
Teknologi Pangan dan Gizi, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Metodenya dapat digunakan juga untuk rempah-rempah yang lain.
Pemanfaatan bawang putih yang paling umum biasanya adalah sebagai bubuk
bawang putih baik langsung dengan penghancuran bawang putih kering (dehydrate garlic
powder) maupun dengan enkapsulasi bawang putih (garlic salt), minyak atsiri bawang
putih, oleoresin dan pikel bawang putih.

5.Bubuk bawang putih berwarna kuning atau kuning keputihan, dapat dibuat
dengan pengeringan bawang putih yang dilanjutkan dengan penepungan. Meskipun
karakteristik flavor tetap baik selama penyimpanan, tetapi bubuk ini bersifat sangat
higroskopis (menyerap air) sehingga diperlukan wadah kedap uap air untuk mencegah
produk menjadi keras dan kasar dan kehilangan kekuatan flavornya. Disamping itu juga
kadang-kadang sulit untuk dituangkan.
kekurangan di atas dapat diatasi jika bubuk bawang putih dibuat dengan cara
enkapsulasi. Caranya adalah dengan mengeringkan minyak bawang putih atau ekstrak
bawang dengan pengering semprot menggunakan bahan-bagan pengisi. Kekuatan flavor
dengan cara ini bisa mencapai 10 kali kekuatan flavor cara pertama. Produk ini banyak
digunakan dalam berbagai produk pangan seperti sosis, salad, salami dan sebagainya.
Dalam pembuatan bubuk bawang putih dengan pengering semprot, bawang putih
dikupas, dihancurkan dengan dicampur air (air : bawang = 3 : 1), lalu dilakukan
pengepresan dan penyaringan sehingga diperoleh sari bawang putih. Kedalamnya
dicampurkan dekstrin atau gum arab sebanyak 0.5 – 2.5 persen, selanjutnya dikeringkan
dengan pengeringan semprot suhu 160 – 170o
C. Jika bubuk hasil enkapsulasi tersebut
akan digunakan harus dilarutkan dengan sejumlah air sehingga flavor bawang putih akan
keluar.
6.Proses enkapsulasi flavor jeruk purut dapat dilakukan sebagai berikut : sebanyak
72 gram dekstrin atau gum arab dilarutkan ke dalam 3 liter etanol. Kemudian sekitar 30
ml minyak atsiri atau oleoresin jeruk purut (atau rempah-rempah lain) ditambahkan ke
dalam larutan dan diaduk sampai homogen. Campuran tersebut kemudian dikeringkan
dengan spray drier.

Selasa, 02 Juni 2009

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA :
PENELITIAN, PENERAPAN TEKNOLOGI, KEWIRAUSAHAAN DAN
PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
A. Umum
Konsekuensi program restruturisasi di lingkungan Ditjen Dikti adalah terintegrasinya
pengelolaan program pembinaan kemahasiswaan termasuk kegiatan penelitian dan
pengabdian kepada masyarakat bagi mahasiswa. Segera setelah proses integrasi berjalan,
teridentifikasi program yang dinilai mampu meningkatkan kualitas intelektual dan karakter
serta membuka akses pengembangan minat dan bakat mahasiswa sepanjang periode
belajarnya di perguruan tinggi.
Berbasis pada fakta tersebut, Ditbinlitabmas Dikti mengintegrasikan kegiatan pendidikan,
penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang selama ini sarat dengan partisipasi aktif
mahasiswa, ke dalam satu wahana yang diberi nama Program Kreativitas Mahasiswa (PKM).
Program Kreativitas Mahasiswa dikembangkan untuk mengantarkan mahasiswa mencapai
taraf pencerahan kreativitas dan inovasi berlandaskan penguasaan sains dan teknologi serta
keimanan yang baik. Dalam rangka mempersiapkan diri menjadi pemimpin yang
cendekiawan, wirausahawan, mandiri dan arif, mahasiswa diberi peluang untuk
mengimplementasikan kemampuan, keahlian, sikap tanggungjawab, membangun kerjasama
tim maupun mengembangkan kemandirian melalui kegiatan yang kreatif dalam bidang ilmu
yang ditekuni.
Ada 5 jenis kegiatan yang ditawarkan di dalam program PKM, yaitu: (1) PKM Penelitian
(PKMP), (2) PKM Penerapan Teknologi (PKMT), (3) PKM Kewirausahaan (PKMK),
(4)PKM Pengabdian kepada Masyarakat (PKMM), dan (5) PKM Penulisan Ilmiah (PKMI).
Kriteria mengenai inti kegiatan seperti materi kegiatan, strata pendidikan, jumlah anggota,
dosen pendamping, alokasi biaya , laporan akhir, dan luaran dari kelima kegiatan dalam PKM
disajikan Tabel VII-1.
Program Kreativitas Mahasiswa Terbuka untuk seluruh mahasiswa program Diploma maupun
sarjana, yang masih aktif, terdaftar di perguruan tinggi dan tidak sedang terkena sanksi
akademik. Dapat diusulkan secara perorangan maupun kelompok non-himpunan, himpunan
profesi ataupun unit kelompok. Seseorang atau sekelompok mahasiswa, baik sebagai ketua
atau anggota, hanya dibenarkan mengikuti satu jenis kegiatan PKM. Untuk menjaga
terpenuhinya quality assurance, keberadaan dosen pendamping disarankan untuk dilibatkan
secara aktif dalam setiap jenis kegiatan PKM. Seorang dosen pendamping setiap tahun hanya
diijinkan mendampingi satu kelompok pelaksana PKM.
Tabel VII-1. KRITERIA PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
JENIS KEGIATAN NO. KRITERIA PKMP PKMT PKMK PKMM PKMI
1 Inti Kegiatan
Karya kreatif,
inovatif dalam
penelitian
Karya kreatif,
inovatif dalam
implementasi
sains dan
teknologi
Karya kreatif,
inovatif dalam
membuka
peluang usaha
Karya kreatif,
inovatif dalam
membantu
masyarakat
Karya kreatif,
dalam
penulisan
artikel ilmiah
2 Materi kegiatan
Semua bidang
ilmu, lintas
bidang
dianjurkan
Semua bidang
ilmu,
lintasbidang
dianjurkan
Semua bidang
ilmu atau yang
relevan
Semua bidang
ilmu atau yang
relevan
Karya PKM
yang telah
dilaksanakan
3 Strata Pendidikan Diploma, S1 Diploma, S1 Diploma, S1 Diploma, Si Diploma, S1
4 Jumlah Anggota 3-5 orang 3-5 orang 3-5 orang 3-5 orang 3-5 orang
5 Dosen Pendamping Maks 1 orang Maks 1 orang Maks 1 orang Maks 1 orang Maks. 1 orang
6 Alokasi Biaya (Rp) Maks.6.000.000 Maks.6.000.000 Maks.6.000.000 Maks.6.000.000 1.500.000
7 Laporan Akhir Hasil Kerja Hasil Kerja Hasil Kerja Hasil Kerja Artikel
8 Luaran Artikel, paten
Paten, model
desain, piranti
lunak, jasa
Barang dan jasa
komersial
Jasa, desain,
barang
Publikasi di
jurnal ilmiah
Perbedaan kelima jenis kegiatan PKM menimbulkan konsekuansi teknis pelaksanaan yang
berlainan. PKM Penelitian (PKMP) merupakan kreativitas yang inovatif dalam menemukan hasil
karya melalui penelitian pada bidang profesi masing-masing. PKM Penerapan Teknologi (PKMT)
mewajibkan mahasiswa bertukar pikiran dengan pengusaha/pedagang kecil, koperasi atau
kelompok produktif lain, karena produk PKMT merupakan solusi atas persoalan yang
diprioritaskan mitra. PKMT juga merupakan kreativitas yang inovatif dalam menciptakan suatu
karya teknologi (prototipe, model, peralatan, proses) yang dibutuhkan oleh suatu kelompok
masyarakat (kelompok tani, industri kecil, dll). PKM Kewirausahaan (PKMK) umumnya
didahului oleh survai pasar, karena relevansinya yang tinggi terhadap terbukanya peluang
perolehan profit bagi mahasiswa. PKM Pengabdian kepada Masyarakat (PKMM) menuntut
ditetapkannya masyarakat sasaran strategis dan persoalannya sebelum menyusun proposal.
PKMM juga merupakan kreativitas yang inovatif dalam melaksanakan program yang membantu
masyarakat seperti penataan dan perbaikan lingkungan, pelatihan keterampilan kelompok
masyarakat, pengembangan kelembagaan masyarakat, penciptaan karya seni dan olah raga, dll.
PKM Penulisan Ilmiah (PKMI) yang merupakan kegiatan penulisan ilmiah dari suatu hasil karya
mahasiswa dalam pendidikan (praktek lapang, KKN, PKM, magang, dll), penelitian dan
pengabdian masyarakat (kewirausahaan, dll). Peserta PKMI dapat berasal dari semua bidang ilmu,
tetapi tulisan yang dibuat berasal dari hasil karya mahasiswa peserta yang telah selesai
dilaksanakan.
Rangkaian proses pengusulan, pelaksanaan dan pelaporan Program Kreativitas Mahasiswa
dilaksanakan sesuai dengan format yang telah ditentukan, yakni Usul Program Kreativitas
Mahasiswa, Evaluasi Usul, Pemantauan, dan Laporan Akhir. Beberapa judul PKM penelitian,
PKM Penerapan Teknologi, PKM Kewirausahaan, dan PKM Pengabdian kepada Masyarakat
diberikan sebagai contoh (lampiran 4).
Proposal yang disusun mahasiswa sesuai format dan sistematika yang telah ditetapkan dapat
diajukan ke Ditbinlitabmas secara kolektif o9leh perguruan tinggi setelah disahkan
pembantu/Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan. Bagi mahasiswa yang berasal dari PTS, harus
memberikan surat tembusan kepada Kopertis.
B. Organisasi Pengelolaan
1. Pengelolaan PKM berada di bawah tanggung jawab Direktorat Pembinaan Penelitian dan
Pengabdian kepada Masyarakat, Dikti.
2. Dikti akan membentuk Tim Pengelola Program di tingkat pusat yang terdiri atas pakar dari
berbagai bidang ilmu. Tugas Tim adalah mengelola program, serta menilai usulan, memonitor
dan menilai pelaksanaan kegiatan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM)
3. Pembantu/Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Direktur Politeknik, Ketua Sekolah Tinggi
perguruan tinggi yang bersangkutan diminta memantau: pelaksanaan PKM di lapang,
penyelesaian laporan akhir PKM serta pertanggungan jawaban keuangan.
C. Syarat dan Sistematika Usulan Program
1. Usulan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) harus diketahui oleh Ketua Jurusan/
Pembimbing Unit Kegiatan Mahasiswa dan disetujui oleh Pembantu atau Wakil Rektor
Bidang Kemahasiswaan perguruan tinggi/Direktur Politeknik yang bersangkutan.
2. Usulan Program dikirimkan kepada Direktorat Pembinaan Penelitian dan Pengabdian kepada
Masyarakat, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional, Jalan
Pintu Satu Senayan Jakarta melalui Pembantu atau Wakil Rektor Bidang
Kemahasiswaan/Direktur Politeknik/Ketua Sekolah Tinggi perguruan tinggi yang
bersangkutan. Sudut kiri bawah sampul yang berisi kiriman usulan, diberi kode PKM.
3. Tanpa mengurangi kreativitas, usulan PKMP, PKMT, PKMK, dan PKMM agar dibuat
selengkapnya dengan mengikuti sistematika penyusunan sebagai berikut:
a. Judul Program
b. Latar Belakang Masalah
c. Perumusan Masalah
d. Tujuan Program
e. Luaran Yang Diharapkan
f. Kegunaan Program
g. Tinjauan Pustaka (untukPKM Penelitian dan Penerapan Teknologi)
h. Metodologi Pelaksanaan Program
i. Jadwal Kegiatan Program
j. Nama dan Biodata Ketua serta Anggota Kelompok
k. Nama dan Biodata Dosen Pendamping
l. Biaya
m. Lampiran
4 Contoh format kulit muka dan halaman pengesahan diberikan dalam Lampiran 1 dan 2.
5 Khusus untuk usulan PKMI, tanpa mengurangi kreativitas, hendaknya mengikuti format dan
sistematika penyusunan seperti dijelaskan pada halaman tersendiri.
D. Pelaporan Kegiatan Program
1. Pada akhir pelaksanaan program, tiap kelompok kecuali peserta PKMI menyerahkan laporan
akhir dan laporan pertanggungjawaban keuangan program kepada Direktorat Pembinaan
Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat melalui Pembantu atau Wakil Rektor Bidang
Kemahasiswaan/Direktur Politeknik/Ketua Sekolah Tinggi perguruan tinggi yang
bersangkutan.
2. Laporan terdiri dari laporan lengkap beserta ringkasan yang harus dibuat rangkap 3 (tiga)
dengan ketentuan:
a. Ukuran kertas A4
b. Diketik 1,5 spasi
c. Diberi sampul rapih, warna hijau tua
d. Ringkasan terdiri dari 3-5 halaman, diketik 1 spasi
3. Laporan akhir Program untuk PKMP, PKMT, PKMK, dan PKMM meliputi:
a. Ringkasan
b. Kata Pengantar
c. Pendahuluan
1) Latar Belakang Masalah
2) Identifikasi Masalah
3) Perumusan Masalah
4) Tujuan Program
5) Kegunaan
d. Metode Pendekatan
e. Pelaksanaan Kegiatan
1) Waktu dan Tempat Pelaksanaan
2) Tahapan Pelaksanaan
3) Instrumen Pelaksanaan
f. Hasil Program dan Pembahasan
g. Kesimpulan dan Saran
h. Daftar Pustaka/Lampiran
E. Seminar Hasil Program dan Penghargaan
Dikti akan memilih kelompok program yang layak diundang sebagai peserta Seminar Program
Kreativitas Mahasiswa (PKM) Tingkat Nasional berdasarkan hasil monitoring dan Laporan
Akhir Program. Pemberian penghargaan akan diberikan kepada program yang inovatif,
merangsang pengembangan diri, dan berdampak luas untuk manfaat masyarakat. Kegiatan ini
akan dikoordinasikan dalam dalam kegiatan Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS).
Lampiran 1. CONTOH FORMAT KULIT MUKA USUL PKM
(warna hijau tua, ukuran A4)
PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
JUDUL PROGRAM
…………………………………………………….
BIDANG KEGIATAN : *
…………………………………………………..
Disusun oleh : **
………………………
UNIVERSITAS/INSTITUT/POLITEKNIK …………………..
KOTA …………, TAHUN ………………
* Pilih salah satu bidang kegiatan (PKMP, PKMT, PKMK atau PKMM)
** Tulis semua nama (Ketua dan diikuti Anggota) pengusul
Logo
Perguruan
Tinggi
Lampiran 2. CONTOH FORMAT HALAMAN PENGESAHAN
USUL PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
1. Judul Kegiatan :
2. Bidang Kegiatan : PKMP PKMK
(Pilih salah satu) PKMT PKMM
Ketua Pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap :
b. NIM/NRP :
c. Jurusan :
d. Universitas/Institut/Politeknik :
e. Alamat Rumah/Telp./fax. :
4. Anggota Pelaksana Kegiatan/Penulis : orang
5. Dosen Pendamping
a. Nama Lengkap dan Gelar :
b. N I P :
6. Biaya Kegiatan Total :
DIKTI : Rp.
Sumber Lain (Sebutkan) : Rp.
7. Jangka Waktu Pelaksanaan : Bulan_____s/d_____ tahun_____
Menyetujui Ketua Pelaksana Kegiatan
Ketua Jurusan/Pembimbing
Unit Kegiatan Mahasiswa *
(__________________________) (_________________________)
NIP. NRP/NIM.
Pembantu atau Wakil Rektor Bidang Dosen Pendamping **
Kemahasiswaan/Direktur Politeknik/
Ketua Sekolah Tinggi,
(__________________________) (_________________________)
NIP. NIP.
* Pembimbing Unit Kegiatan Mahasiswa bagi kelompok mahasiswa yang organisasinya tidak
berada langsung di bawah Jurusan
** Diisi apabila ada Dosen Pendamping
Lampiran 3. SISTEMATIKA USUL PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
(PKMP, PKMT, PKMK, PKMM)
A. JUDUL PROGRAM
Judul kegiatan PKM hendaklah singkat dan spesifik, tetapi cukup jelas memberi gambaran
mengenai kegiatan PKM yang diusulkan
B. LATAR BELAKANG MASALAH
Kegiatan PKMP dilakukan untuk menjawab keingintahuan mahasiswa untuk mengungkapkan
suatu kreativitas/gejala/konsep/dugaan atau menerapkannya untuk suatu tujuan. Kemukakan
hal-hal yang mendorong atau argumentasi pentingnya dilakukan kegiatan PKMP. Uraikan
proses dalam mengidentifikasi masalah kegiatan PKMP.
Gambarkan secara kuantitatif potret, profil dan kondisi khalayak sasaran yang akan dilibatkan
dalam kegiatan PKMT, PKMK maupun PKMM. Gambarkan pula kondisi dan potensi wilayah
dari segi fisik, sosial, ekonomi maupun lingkungan yang relevan dengan kegiatan yang akan
dilakukan.
C. PERUMUSAN MASALAH
Rumuskan dengan jelas permasalahan yang ingin diteliti atau dipecahkan. Uraikan pendekatan
dan konsep untuk menjawab masalah yang diteliti, hipotesis yang akan diuji atau dugaan yang
akan dibuktikan. Dalam perumusan masalah dapat dijelaskan definisi, asumsi, dan lingkup
yang menjadi batasan kegiatan PKM. Uraian perumusan masalah tidak harus dalam bentuk
pertanyaan.
D. TUJUAN PROGRAM
Berikan pernyataan singkat mengenai tujuan kegiatan PKMP. Kegiatan PKMP dapat
bertujuan untuk menjajagi, menguraikan, menerangkan, membuktikan atau menerapkan suatu
gejala, konsep atau dugaan, atau membuat suatu prototype.
Rumuskan tujuan yang akan dicapai secara spesifik yang merupakan kondisi baru yang
diharapkan terwujud setelah kegiatan PKMT, PKMK maupun PKMM selesai. Rumusan
tujuan hendaknya jelas dan dapat diukur.
E. LUARAN YANG DIHARAPKAN
Luaran kegiatan PKM mengacu pada table VII-1
F. KEGUNAAN PROGRAM
Gambarkan manfaat bagi khalayak sasaran, dari sisi ekonomi maupun Ipteks, apabila
perubahan kondisi terjadi setelah kegiatan PKM selesai.
G. TINJAUAN PUSTAKA (untuk PKMP dan PKMT)
Usahakan pustaka terbaru, relevan dan asli dari jurnal ilmiah. Uraikan dengan jelas kajian
pustaka yang menimbulkan gagasan dan mendasari kegiatan PKM yang akan dilakukan.
Tinjauan Pustaka menguraikan teori, temuan, dan bahan penelitian lain yang diperoleh dari
acuan, yang dijadikan landasan untuk melakukan kegiatan PKM yang diusulkan. Uraian
dalam Tinjauan Pustaka dibawa untuk menyusun kerangka atau konsep yang akan digunakan
dalam kegiatan PKM. Tinjauan Pustaka mengacu pada Daftar Pustaka.
H. METODE PELAKSANAAN PROGRAM
Uraikan metode yang digunakan dalam pelaksanaan program secara rinci. Uraian untuk
PKMP dapat meliputi variable dalam penelitian, model yang digunakan, rancangan penelitian,
teknik pengumpulan data dan analisis data, cara penafsiran dan penyimpulan hasil penelitian.
Uraian untuk PKMT, PKMK dan PKMM dilakukan untuk menjelaskan metode yang
digunakan untuk mencapai tujuan yang telah dicanangkan dalam butir D.
I. JADWAL KEGIATAN PROGRAM
Buatlah jadwal kegiatan PKM yang meliputi kegiatan persiapan, pelaksanaan dan penyusunan
laporan kegiatan PKM dalam bentuk Bar-chart. Bar-chart memberikan rincian kegiatan dan
jadwal pelaksanaan kegiatan tersebut. Jadwal pelaksanaan mengacu pada Metode Pelaksanaan
Program (H).
J. NAMA DAN BIODATA KETUA SERTA ANGGOTA
1. Ketua Pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap :
b. NIM :
c. Fakultas/Program Studi :
d. Perguruan Tinggi :
e. Waktu untuk kegiatan PKM : jam/minggu
2. Anggota Pelaksana
(rincian seperti butir 1)
K. NAMA DAN BIODATA DOSEN PENDAMPING
1. Nama Lengkap dan Gelar :
2. Golongan Pangkat dan NIP :
3. Jabatan Fungsional :
4. Jabatan Struktural :
5. Fakultas/Program Studi :
6. Perguruan Tinggi :
7. Bidang Keahlian :
8. Waktu untuk kegiatan PKM : jam/minggu
L. BIAYA
Berikan rincian biaya PKM baik yang didanai Depdiknas maupun pihak lain dengan mengacu
pada Metode Pelaksanaan Program (H) dengan Rekapitulasi biaya :
1.Bahan habis pakai
2.Peralatan penunjang PKM
3.Perjalanan
4.Lain-lain
M. LAMPIRAN
1.Daftar Pustaka
2.Daftar Riwayat Hidup Ketua dan Anggota Pelaksana kecuali yang berasal dari Industri
Kecil/Koperasi
3.Gambaran teknologi yang akan diterapkembangkan (untuk PKMT, PKMK, PKMM)
4.Surat Pernyataan Kesediaan Bekerjasama dari Pengusaha Kecil, Koperasi atau Kelompok
Tani (untuk PKMT, PKMK, PKMM)
5.Denah detil Lokasi Pengusaha Kecil atau Mitra Kerja (untuk PKMT, PKMK, PKMM)
6.Hal-hal lain yang dianggap perlu
LAMPIRAN 5. CONTOH JUDUL PKMP, PKMT, PKMK, DAN PKMM
a. Upaya Mengatasi Kegagalan Keramba Ikan Setelah Hujan Belerang di Dalu-Dalu Mininjau
Kabupaten Agam
b. Studi tentang Intrusi Air Laut di Kota Padang dengan Metode Geolistik
c. Rancang Bangun Mesin Pembuat Pegas Springbed
d. Budidaya Ikan Patin (Pangasius pangasius) dalam kantong Jaring Apung
e. Rancang Bangun Prototipe Alat Sortasi Buah dengan Lengan Robot
f. Introduksi Teknologi Pemulsaan dan Pengajiran pada Famili Cucur bilaceae di Kabupaten
Rejang Lebong
g. Penilaian Kondisi Terumbu Karang di Cagar Alam Laut Kepulauan Krakatau Lampung
h. Program Buku Pendidikan Sosial dan Emosional Anak
i. Jaringan Lokal Komputer Nirkabel dalam Suatu Gedung
j. Pengembangan Usaha Produk Gula Kubus Rendah Kalori
k. Alat Pengiris Kerupuk Multi Pisau Sistem Pedal
l. Pengolahan Bulu Ayam Sebagai Bahan Pakan Sumber Protein dengan Hidrolisis Asam dan
Tekanan Uap
m. Pengembangan Metode untuk Deteksi Mikroba Patogen pada Kasus Keracunan Makanan
Menggunakan Metode Imunokimia
n. Revitalisasi Konsep Bhinneka Tunggal Ika dalam Upaya Pembinaan Kesadaran sebagai
Warga Bangsa Yang Majemuk
o. Angkutan Niaga Ramah Lingkungan (Anggara)
p. Pengaruh Lingkungan Pergaulan terhadap Perilaku Menyimpang Anak Jalanan di Purwokerto
q. Fermentasi Kulit Ari Kedelai dengan Ragi Tempe sebagai Pakan Ayam Broiler Secara in
vivo.
r. Studi Penggalian Tradisi dan Budaya Lokal di Kepulauan Karimunjawa sebagai Aset
Pariwisata.
s. Pendirian Usaha Desain Produksi dan Pemasaran Busana.
t. Eksotisme dan Fungsi Singir Erang-Erang Sekar Panjang, Sebuah Potret Klasik Dunia Sastra
Pesantren.
u. Pemasyarakatan Teknologi Informasi Berbasis Internet untuk Kalangan Usaha Kecil
Menengah di Yogyakarta.
v. Teknologi Pembuatan Susu Kental Manis dari Kacang.
w. Pendayagunaan Kayu Secang dalam Pewarnaan Kain Batik.
x. Mengolah Kertas Bekas Menjadi Kantong Belanja Eksklusif.
y. Perancangan Pembangkit Listrik Tenaga Angin dan Surya.
z. Rancangan Sistem dan Prosedur Transaksi Keuangan Daerah dalam Pelaksanaan Otonomi
pada Pemerintah Kota/Kabupaten.

Pengikut

Daftar Blog Saya